Apa yang harus dilakukan klub-klub sepakbola Indonesia menghadapi krisis keuangan?

Pertanyaan itu sering muncul di tengah hingar bingar dan carut marut sepakbola negeri ini. Sering kita lihat beberapa klub sepakbola menunggak gaji pemain, terancam bubar karena keterbatasan dana, bahkan sempat ada pemain asing yang meninggal karena tidak memiliki uang untuk berobat. Tidak memiliki uang?Ya, karena gajinya masih ditahan klub lamanya yang tidak mampu membayar kewajibannya.

Sekilas saya mencoba mengalihkan perhatian ke sebuah klub kecil asal Daerah Istimewa Yogyakarta, yaitu PSS Sleman. Saya baru tahun ini mengikuti kiprah klub semenjana ini. Itupun saya mengenal melalui media internet karena suporternya ramai sekali dibicarakan. Menengok lini masa mereka membuat saya memindahkan haluan saya ke Sleman.

Tiba di Sleman awal Maret 2013 lalu, saya dikejutkan dengan sebuah pertandingan yang luar biasa atmosfernya. Sekilas saya baru sadar bahwa pertandingan PSS Sleman melawan Persiba Bantul (derby) yang saya saksikan saat itu hanyalah ujicoba. Ujicoba tetapiatmosfernya pertandingan final. Luar biasa!

Saya menjadi tertarik untuk mengenal tim ini lebih dalam, dan saya seperti mendapat solusi untuk semua klub sepakbola di Indonesia.

1. PSS Sleman memakai kostum dari apparel milik mereka sendiri.

Bisa bantu saya menyebutkan klub di Indonesia yang mendapatkan keuntungan dari apparel yang mereka pakai? Mungkin tidak lebih dari 5 klub. Sebagian besar klub Indonesia sudah cukup puas dengan merk apparel bergengsi yang menempel padahal mereka tidak mendapatkan apa-apa dari apparel tersebut. Tidak ada uang yang masuk, tidak ada pula sharing profit penjualan merchandise dari apparel.

Bandingkan dengan di Eropa, di mana apparel sekelas Nike harus membayar sekitar 23 juta Euro per tahun agar Manchester United mau memakai Nike, itu di luar sharing profit.

Jadi, langkah yang dilakukan PSS Sleman sudah benar. Tinggal bagaimana PSS Sleman memperlakukan apparel sebagai ladang uang bagi mereka.

2. Kampanye No Ticket No Game

Tiket adalah sumber pendapatan paling utama dari semua klub sepakbola di Indonesia. Mari kita lihat berapa banyak penonton di Indonesia yang masih suka masuk tanpa harus membayar.

Kampanye No Ticket No Game sudah begitu merasuk ke sanubari warga Sleman, sehingga tidak heran ketika saya membaca rilis di sebuah media yang menyebutkan bahwa PSS Sleman mendapat pemasukan nyaris Rp 2 milyar dari 5 pertandingan, dengan rata-rata pemasukan Rp 400 juta per pertandingan. Adakah klub di kasta kedua yang meraih pemasukan sebesar itu?

3. Bisnis

Nyaris 2 bulan saya mengikuti kiprah PSS Sleman mempertahankan hidupnya. Apparel,tiket, dan sekarang mereka mencoba membuat mini market,cafe, dan lain-lain.

Apabila semua itu sudah berjalan, bisa bayangkan betapa kokohnya roda ekonomi PSS Sleman meskipun tanpa sponsor? Bahkan bukan tidak mungkin, rasa cinta produksi dalam negeri ditumbuhkan dari kabupaten yang subur ini.

Warga Sleman akan dibuat berpikir “Daripada aku belanja di mini market waralaba yang tidak memberikan manfaat untuk PSS Sleman, lebih baik aku belanja di mini market PSS Sleman.”

Warga Sleman akan dibuat berpikir “Daripada aku menghabiskan uang di cafe yang tidak memberikan manfaat untuk PSS Sleman, lebih baik aku ke cafenya PSS Sleman.”

Sleman sudah menyadarkan bahwa masyarakat sepakbola di Indonesia perlu mengembargo dirinya sendiri dari ketergantungan sponsor.

Embargo diri sendiri akan menggali kekuatan diri sendiri dan menghilangkan sifat cengeng kita kala klub kita tidak mendapat sponsor.

Apa yang harus dilakukan klub-klub sepakbola Indonesia menghadapi krisis keuangan? Embargo diri sendiri, PSS Sleman sudah mengajarkan.

Salam.

 

kompasiana.com

Tinggalkan Balasan

About NewsPSS

Memberikan informasi tentang PSS