Sleman – Selebrasi berlebihan dengan melemparkan rol (gulungan) kertas ke tengah lapangan yang sering diperlihatkan oleh para pendukung PSS kini menelan korban. Hestu (14 tahun) warga Pulodadi, Caturtunggal, Depok, Sleman, Minggu (12/5/2013) tidak dapat menyaksikan aksi Fajar Listiyantara dan kawan-kawan di Stadion Maguwpharjo saat menjamu Persenga (Nganjuk).
Pelajar kelas 3 SMP ini harus dilarikan ke Rumah Sakit JIH Condongcatur dengan muka berlumuran darah akibat kepala belakang bagian kanan bocor sepanjang 3 centimeter terkena lemparan rol kertas yang dilempar sesama pendukung PSS.
“Lukanya cukup dalam dan lebar. Kami tidak punya peralatan yang memadai untuk mengatasi kondisi ini, jadi korban kami larikan ke UGD Rumah Sakit JIH,” ujar Agus, salah satu petugas PMI yang bertugas di stadion malam itu.
Menurut Faris, rekan Hestu, saat kejadian dirinya bersama Hestu berada di tribun selatan bagian bawah dekat kelompok yang menabuh perkusi. Ketika wasit yang memimpin pertandingan, Agus Joko, meniup peluit tanda kicikoff babak pertama dimulai, seperti biasanya rol kertas yang sering digunakan untuk mengeprint bon belanjaan di toko atau supermarket dilempar oleh para penonton ke tengan lapangan. Gulungan kertas yang sangat padat, cukup keras dan seberat kerikil ini biasanya akan membentuk layaknya ekor yang sangat panjang dan meliuk-liuk di udara sebelum jatuh ke lapangan.
Namun saat itu apes bagi Hestu, rol kertas yang dilempar dari ketinggian tribun paling atas tersebut tidak mengembang jatuh di bagian bawah dan bum … menghantam belakang kepalnya. Memang diperlukan kemahiran khusus agar rol kertas bisa mengembang. Parahnya lagi jika sudah kurang mahir melempar, posisi  rol kertas saat melempar buannya keluar tetapi kedalam. Maka rol seberat kerikil itu akan menghujam cukup keras.
Kabagops Plores Sleman, Kompol Herry Suryanto, menyesalkan jatuhnya korban. Orang nomor tiga di jajaran Polres Sleman ini mengakui pihaknya telah berkali-kali memberi peringatan kepada para suporter karena memang inspektur pertandingan telah memberi peringatan soal bentuk selebrasi yang sangat mengganggu jalannya pertandingan. Namun pihaknya mengalami kesulitan mengatasi ini karena para suporter yang biasanya datang beberapa jam sebelum pertandingan, umumnya pada siang hari, telah membawa masuk rol kertas yang di dijual sekitar stadion dengan harga Rp 5.000 untuk tiga rol.
”Yang bisa kami lakukan adalah imbauan kepada para suporter dan juga para pemimpin regu atau laskar. Namun imbauan ini sering tidak sampai ke bawah, apalagi harga rol ini terhitung murah. Dengan adanya kasus ini kami akan memberitahu secara tegas kepada para pemimpin regu untuk menjaga anggotanya,“ tegas Herry.
Hal yang samapun dikatakan oleh Ketua Panpel Sudibyo. Lelaki berkaca mata minus mengakui telah berulang-ulang melakukan kordinasi dengan kelompok suporter agar selebrasi yang dilakukan tidak berlebihan dan kalau bisa hanya saat gol tercipta.
“Ini (olahraga sepakbola) juga termasuk hiburan, jadi kalau apa-apa kemudian dilarang rasanya terlalu menekan penonton. Biarkan penonton berekspresi dalam memberi dukungan, tapi kami mohon agar mereka yang menjadi pemimpin regu untuk mengawasi sehingga tidak berlebihan apalagi sampai jatuh korban atau bahkan membuat PSS mendapat sanksi,” kata Sudibyo.
source : Sorotjogja.com

Tinggalkan Balasan

About NewsPSS

Memberikan informasi tentang PSS